“Kami betul-betul prihatin. Sepanjang perjalanan dari Jakarta, daerah ini memang potensial dilanda bencana hidrometeorologi.”
Kenyataan pahit itu dikemukakan Ketua Umum Yayasan Sarana Wana Jaya (YSWJ), Dr. Ir. Iman Santoso saat memberi sambutannya dalam acara penanaman mangrove di Desa Pantai Bahagia, Kecamatan Muaragembong, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (22/2/2025).

Apa yang disampaikan Ketua Umum YSWJ memang tidak meleset. Desa Pantai Bahagia dalam beberapa tahun terakhir jauh dari bahagia. Sekretaris Desa (Sekdes) Ahmad Qurtubi menceritakan bagaimana kondisi desanya yang sudah langganan mengalami banjir rob dan air merendam rumah warga selama berhari-hari.
Bencana hidrometeorologi terjadi akibat paparan abrasi di pantai yang sangat masif. Sampai detik ini, katanya, rata-rata abrasi menggerus daratan 1 meter tiap tahun. “Hari ini ada tiga rumah terancam hilang dihempas gelombang. Dua bulan lalu juga sudah tiga rumah yang hilang,” papar Qurtubi.
baca juga: Berharap Gernas Menanam dari Taman Hutan Kampus IPB
Sekdes yang mantan guru dan juga penggiat lingkungan ini dengan fasih menuturkan hasil penelitian Libang Pemkab Bekasi, di mana dia juga termasuk anggota tim teknisnya. Sejak tahun 1980-an sampai 2023 lalu, paparan abrasi paling luas memang terjadi di Desa Pantai Bahagia. Daratan yang hilang sudah sekitar 400 hektare (ha) dari total abrasi pantai seluas 1.800 ha.
Banjir rob
Kondisi Desa Pantai Bahagia memang memprihatinkan. Hal itu dikemukakan pendiri Yayasan Karunia Bumi Lestari yang menaungi Lingkari Institute, Syukur Iwantoro. Dulu, katanya, jarak pantai dari desa mencapai lima kilometer. “Saat itu, Pantai Bahagia itu sesuai namanya, membahagiakan warganya karena desa di sepanjang pantai adalah desa yang makmur dan memiliki sumber daya alam biota pantai yang berlimpah termasuk hutan mangrove yang lebat,” papar Syukur.
Namun bencana mulai terjadi ketika warga membangun tambak di sepanjang pantai dan mulai merambah ke wilayah hutan mangrove.

“Perubahan ekosistem menyebabkan pantai kehilangan penahan ombak. Akibatnya, pantai semakin tergerus abrasi dan terjadilah fenomena banjir rob,” papar Syukur. Dalam sebulan, katanya, terkadang bisa tiga kali banjir rob. Air bahkan masuk dan menggenangi rumah warga hingga berhari-hari.
Kondisi ini, menurutnya, mulai menyadarkan masyarakat untuk membangun kembali ekosistem mangrove dan melindunginya.
Apalagi, Qurtubi mengaku kawasan mangrove di Muaragembong adalah habitat flora dan fauna yang eksotis. Dia menyebut keberadaan elang bondol (Haliastur indus) yang masuk Apendiks 1 CITES. Bahkan ada juga satwa yang sedang diusulkan menjadi ikon Kabupaten Bekasi: lutung jawa.
Selain itu, Muaragembong juga tercatat sebagai jalur migrasi burung dari Amerika menuju Australia dan sebaliknya. Jika mangrove hilang, maka selesailah perjalanan migrasi burung-burung itu, karena ekosistem mangrove di Muaragembong menjadi tempat beristirahat dan salah satu tempat mereka mencari makan selama bermigrasi.

Komitmen penanaman
Oleh karena itu, dia menyambut baik penanaman mangrove yang dilakukan YSWJ-Lingkari Institute bersama dengan kelompok Rawat Bumi. Masyarakat Desa Pantai bahagia pun menyambut antusias, bahkan menawarkan agar penanaman dilakukan di tempat mereka.
Acara penanaman mangrove sendiri berlangsung di tengah rintik hujan dan tidak menyurutkan rombongan sekitar 40 orang yang datang dari Jakarta. Secara total ada 250 bibit mangrove yang ditanam pada Sabtu itu, dari total sekitar 2.000 bibit mangrove yang akan ditanam secara bertahap dalam waktu dua tahun.
Menurut Qurtubi sudah ada 1 juta pohon mangrove yang ditanam sejak tahun 2013 dengan beberapa kelompok dan penggiat lingkungan. Sejak awal mereka yakin tanaman mangrove bisa menghentikan abrasi pantai, meskipun perubahan iklim membuat abrasi tetap terus terjadi. Selain itu juga ada faktor penurunan muka tanah, yang berdasarkan kajian ITB, terjadi penurunan muka tanah di Pantai Utara secara rata-rata 25 cm/tahun. “Dan Pantai Bahagia merupakan bagian dari Pantai Utara Jawa,” paparnya.
Iman Santoso mengaku kegiatan menanam mangrove ini akan terus dipertahankan jika memang terbukti bagus dan membantu masyarakat. Bahkan, dia mengungkapkan, awalnya dia ingin mengajak sejumlah teman dari organisasi internasional yang potensial bisa membantu untuk ikut menyelesaikan masalah yang serius di Desa Pantai Bahagia.

“Tapi mereka berkomitmen ada saatnya untuk ikut membantu dan hal ini akan dikoordinir oleh Pak Syukur untuk melihat kondisi yang ada,” ujar Iman.
YSWJ dan Lingkari Institute sendiri menggalang kerja sama di bidang lingkungan untuk menghijaukan kembali hutang mangrove dan memberdayakan masyarakat Desa Pantai Bahagia. Kerja sama ini telah ditandatangi pada Senin (17/2/2025) dan akan berlaku selama lima tahun. Dalam kesepakatan itu disebutkan bahwa kedua belah pihak bersedia melakukan pembinaan penanaman dan pemeliharaan tanaman mangrove.